Spammer – Part 6

Pukul 10.15.

Ponsel Leak berbunyi lebih cepat daripada perkiraannya. Leak melirik ke arah pengganggu itu dan memutuskan untuk membiarkannya. Ia belum selesai mengatur perangkatnya.

Berengsek! Seandainya bukan Aven yang minta pastilah sudah ia tolak karena untuk menyelesaikan tugas itu ia harus menyusup ke dalam jaringan.

Bukannya tidak mampu. Leak sangat sanggup. Tapi sebelumnya, ia harus mengamati dahulu lokasi target, jenis sistem operasi, jalur-jalur yang terbuka, layanan yang aktif. Lalu mencoba menggambar peta jaringan, memikirkan celah-celah, membongkar password, dan segala tetek bengek lainnya. Semua itu butuh waktu, dan ia cuma diberi kurang dari satu jam. Berengsek!

Apalagi sekarang jam kerja. Administrator penjaga gerbang jaringan pasti sedang di tempatnya. Leak kenal betul tabiat mereka, orang-orang paranoid, jenis yang memegang kuat nasihat “only paranoids survive”. Begitu merasa ada kejanggalan, para penakut itu pasti langsung menutup semua gerbang jaringan. Dan jika hal itu terjadi di tengah aksinya, semuanya bisa kacau.

Tetapi Leak paham, admin juga manusia. Manusia, itulah ikatan terlemah. Secanggih dan sekuat apa pun rantai sistem keamanan, ikatan yang ini selalu yang terlemah. Selalu!

Ponsel itu terus saja berteriak dan menggelepar sehingga menimbulkan bunyi gemeretak di meja Leak. Akhirnya, Leak memungut ponsel itu.

“Selamat siang. Saya Noto, network admin PT Ma—.”

“Oke, Noto,” potong Leak, “dengar, ikuti perintahku. Matikan semua antivirus dan firewall di seluruh jaringan kamu. Juga allow semua akses dan proses di semua komputer tanpa terkecuali!”

“Lho?”

“Selesaikan dalam sepuluh menit, sekarang kasih teleponnya ke Aven!”

Di tempat duduknya, Noto berkedip lalu menggeser pantatnya seolah baru menduduki duri.

Bercanda? Pikir Noto.

Dia bisa dipecat kalau mengikuti perintah itu. Tetapi untuk membantah pun Noto ragu. Namun Noto bukanlah pegawai baru. Sudah tiga tahun ia menjadi administrator dan telah kenyang melayani babi, diktator, dan makhluk-makhluk sok berkuasa lainnya. Dari pengalamannya Noto tahu, tindakan terbaik dalam posisi seperti ini adalah… diam.

Noto menjauhkan ponsel dari telinga lalu menatap layar ponsel itu. Layar itu tampak berminyak. Noto mengelapnya ke baju agar minyak itu hilang. Setelah itu ia menoleh ke kiri, memaksakan senyum, lalu menyerahkan ponsel itu kepada Aven.

“Buat Bapak,” kata Noto.

Aven mengambilnya.

“Ya,” kata Aven.

“Pak, tolong minta admin itu turuti saya. Dia ragu-ragu. Saya beri dia waktu sepuluh menit. Dia pasti bisa. Setelah beres minta dia telepon nomor ini lagi,” kata Leak.

***

Noto, sang network administrator, tidak punya pilihan selain menjadi robot karena perintah itu diawasi langsung oleh bos besar dengan pesan yang sangat jelas: selesaikan dalam sembilan menit tiga puluh tiga detik, atau pergi ke ruang HRD dan ambil pesangon.

***

Pukul 10.25.

Noto menelepon memakai ponselnya. Kepalanya penuh dengan pertanyaan namun ia tak bisa bertanya. Di sampingnya, bos besar mungkin sedang menatapnya seperti elang mengincar anak ayam. Lengah sedikit, habislah dia.

Nada panggil menghilang lalu terdengar suara menjengkelkan seorang lelaki.

“Beres?”

“Ya,” jawab Noto lesu.

“Sekarang download file di alamat ini. Catat! 202.10.___ .”

Gusti! Noto segera menyambar pulpen dan menarik selembar kertas dari tumpukan kertas di kanannya. Sikunya menyenggol gelas kopi. Gelas itu terguling dan isinya tumpah.

“Waduh,” kata Noto.

Noto menoleh ke kiri dan ke kanan. Gemetaran, Noto segera menarik beberapa lembar tisu lalu menumpuknya di atas cairan itu.

“Maaf,” kata Noto, “bisa ulangi alamatnya.”

Suara desahan terdengar. Noto berdebar. Untungnya lelaki itu mau mengulangi. Noto segera mencatatnya lalu menyebut kembali angka-angka tersebut untuk konfirmasi.

“Begitu komplet langsung jalankan di komputer yang jadi gateway. Lima menit beres, ya! Sekarang kasih ke Aven!”

Noto mengelap ponsel ke bajunya, lalu menoleh ke arah bosnya sambil memaksakan diri untuk tersenyum.

“Buat Bapak,” kata Noto.

Aven menerima ponsel itu. Entah mengapa ia merasa benda itu lebih berat dari sebelumnya. Aven was-was. Waktunya tinggal sedikit. Semoga Leak memberi kabar baik.

“Pak, tolong pastikan lima menit lagi admin itu selesaikan permintaan saya,” kata Leak, “dan lima belas menit kemudian permintaan Bapak akan terkabul.”

Aven menghela napas. “Oke!”

***

Pukul 10.45.

Noto terpana. Hal yang ia takutkan terjadi juga. Komputer di depannya hang—berhenti merespon. Ia melihat layar komputer itu berubah warna menjadi biru dan persis di tengah-tengah layar muncul tulisan hitam, besar, dan memalukan:

HACKED BY LEAK

Tak perlu menunggu sampai kagetnya hilang, telepon di meja Noto langsung meraung.

“Pasti komplain,” pikir Noto.

Noto mencoba menebalkan telinganya sebelum mengangkat gagang telepon, namun belum sempat melakukannya, pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka. Aven, bos besar, tiba-tiba saja muncul dari balik pintu itu bagaikan malaikat maut.

Noto menelan ludah. Jantungnya seperti melompat-lompat dan keningnya berkeringat. Noto merasa seperti sedang menunggu algojo mengayunkan pedang ke lehernya.

Aven melangkah melewati pintu dan tampak akan membuka mulut.

Konsentrasi, berpikir cepat, Noto menarik napas lalu mencoba menyatukan semua kejadian dari pagi untuk dirangkum dalam sebuah jawaban.

“Noto!” kata Aven. Suara Aven terdengar menggelegar di telinga Noto.

You ke Mangga Dua, periksa dan ambil laptop I. Ini bonnya. Sekalian you bayar!” lanjut malaikat maut jadi-jadian itu sambil menyodorkan segepok uang.

Noto melongo. Untungnya, meski tergagap, Noto berhasil bersuara.

“Maaf Pak, anu…,” kata Noto.

Bagaimana menjelaskannya? Masa harus dijelaskan bahwa jaringan komputer kantor sedang ada masalah dan harus ditangani segera, sedangkan ke Mangga Dua bisa besok-besok? Pikir Noto.

You berangkat sekarang!” potong Aven.

Noto kembali menelan ludah. “Baik, Pak.”

Yah, paling tidak ini perintah paling logis hari ini.

.

***

Pukul 11.00

Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Aven. Sekejap kemudian pintu itu terbuka dan saat terbuka sempurna, muncullah lima orang.

Orang-orang itu memakai rompi berwarna krem. Jika dilihat dari belakang, di rompi mereka tercetak tiga huruf kapital berwarna merah, hitam, dan merah. Dari kiri ke kanan, tepat pada bagian tengah, tersusun rangkaian huruf: K P K.

***

[ssba]