Spammer – Part 5

Ponsel itu berdering dan menggelepar di atas meja komputer, membuat pria yang ada di sebelah ponsel itu berhenti sejenak dari keasikannya bermain game strategi. Pria gondrong itu lalu menoleh ke kanan. Rambut hitam sebahunya yang dikuncir ekor kuda berayun dan menyapu bahu. Wajah pria gendut itu tampak pucat karena jarang terjemur sinar matahari. Dan seperti kebanyakan pria gemuk berkulit putih lainnya, pria itu tampak lucu dan menyenangkan. Ia mirip Tie Pat Kay—siluman babi adik seperguruan Sun Go Kong, Si Kera Sakti dalam cerita Perjalanan Ke Barat. Tetapi, penampilan bisa sangat menipu.

Pria putih gemuk itu kembali menatap layar datar di depannya dan mulai memainkan lagi jemarinya di atas papan ketik—melanjutkan permainan. Tumpukan CD tampak berantakan di pojok ruangan itu; musik heavy metal berdentam-dentam di udara; dan asap rokok, bau keju piza, serta manis kola memengapkan ruangan. Tapi, semua itu tidaklah mengganggu konsentrasi bermain pria itu. Konsentrasi pria gendut itu justru buyar gara-gara ponsel di kanannya tak kunjung lelah bertingkah seperti kecoak habis disemprot.

Setelah mendesah, Si Gendut memungut ponsel menyebalkan itu, lalu membaca nomor yang muncul di layar. “Siapa?” pikirnya.

Si Gendut merasakan geli di tangannya karena ponsel itu terus saja menggelepar. Ia menekan tombol jawab.

“Leak?” kata suara di seberang.

Pria itu membesarkan mata. Ia kenal suara itu, tapi tidak nomornya.

Tak mungkin orang asing tahu panggilanku, pikir pria itu sambil mengusap rambutnya yang gondrong dengan jemari kiri, jebakan?

“Salah sambung!” jawab pria itu.

“Tunggu… ini Aven!”

Aven? Pria yang dipanggil Leak itu menyandarkan punggung ke kursi. Suara berderit terdengar. Lalu, seperti ada yang tersangkut di tenggorokan, Leak berdeham.

“Maaf, Pak, kok, nomornya—.”

“Panjang ceritanya. I butuh bantuan.” Penelepon bernama Aven itu berhenti sesaat. ”Kantor I akan digeledah sejam lagi. Bisa you selesaikan pekerjaan biasa dalam satu jam?”

Pekerjaan biasa? Memangnya aku dukun! Pikir Leak.

“Maaf, Pak. Bisa lebih spesifik?” kata Leak sambil menekan sebuah tombol pada papan ketik dengan tangan kiri. Suara musik di kamar itu langsung mengecil.

Aven menjelaskan tentang penggeledahan, tentang dokumen-dokumen elektronik yang mungkin bisa membuatnya celaka jika sampai bocor, dan ide untuk menutup kemungkinan mengerikan itu.

Leak mendengarkan dengan saksama. Mata Leak menjelajahi dinding kamarnya yang berwarna biru dan pikiran Leak mencoba menyerap semua perkataan Aven. Saat Leak mengerti situasi yang sedang Aven hadapi, Leak menyeringai. Ia lalu memindahkan ponsel ke tangan kiri dan mendekatkan benda itu ke telinga kiri.

“Satu jam? Wah, impossible, Pak,” kata Leak sambil menggosok hidungnya dengan telunjuk kanan, sedikit tersenyum, dan memberi tekanan pada kata ‘impossible’ untuk meyakinkan Aven bahwa permintaan itu betul-betul mustahil.

I know, karena itu I hubungi you. Satu lagi, usahakan jangan ada yang tahu selain kita. Understood?”

Leak memonyongkan bibir, lalu memaki dalam hati. Sungguh direktur tulen. Bunyinya permintaan tapi makna aslinya perintah.

“Tapi biayanya tiga kali biasanya, Pak?”

Deal, asal selesai satu jam!”

Leak menegakkan tubuh dan menahan napas. Sinting! Pikir Leak.

Tak ada jeda apalagi tawaran. Aven pasti sangat serius. Demikian pula dengan bayaran yang dijanjikan. Tergiur dengan bayaran yang Aven janjikan, Leak segera menekan beberapa tombol pada papan ketik dengan tangan kanannya; musik di kamar itu langsung berhenti, latar belakang layar komputer berubah hitam, dan beberapa kode program muncul di sana.

“Siap, Pak. Mohon ke tempat network admistrator. Minta dia hubungi nomor 0-8-1- ….” Leak menyebut sebuah nomor telepon.

*****

[BERSAMBUNG] Tidak ingin ketinggalan cerita ini? Gabung di newsletter dan kau akan mendapatkan update terbaru.

[ssba]