Spammer – Part 4

Pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga dan terdiam seolah sedang mendengar khotbah maha penting. Matanya nyalang. Ia melirik ke kiri, ke arah lelaki tambun yang berdiri di depan konter resepsionis hotel—lima belas meter di samping kiri.

Sambil terus tersenyum, Sang Resepsionis—seorang gadis berusia dua puluhan—mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Beberapa saat kemudian gadis itu berjalan ke belakang lalu menghilang.

Saat kembali, gadis itu membawa sebuah amplop. Pria yang sedang mendengarkan ponsel itu ingin sekali mendekati mereka lalu mencuri dengar pembicaraan. Kalau mungkin sekalian melihat isi amplop tersebut. Namun ia tak mungkin melakukannya. Bisa kacau semuanya. Ia telah bersumpah kali ini harus berhasil.

Sepertinya keputusannya kali ini tepat. Ia ingat dua minggu lalu sempat terkecoh. Dua minggu lalu bapak gendut itu pergi ke hotel lain dan ia hanya mengamati mobil bapak itu saja. Setelah dua jam menunggu dan Si Gendut tidak kunjung muncul, ia pun masuk mencari tahu namun mendapati fakta ajaib: Si Gendut tidak pernah masuk ke kamar ataupun meninggalkan hotel. Ke mana hilangnya pria segendut itu?

Keledai pun tak masuk lubang yang sama dua kali. Ia tak ingin disamakan dengan keledai apalagi kalah pintar dari keledai. Demi arwah Sherlock Holmes, ia adalah detektif profesional. Kali ini ia akan menempel Si Gendut. Tidak terlalu dekat, tapi mustahil untuk lenyap.

Awalnya dia pikir ini pekerjaan surveillance ringan yang bisa dikerjakan dua atau tiga hari. Sebuah perkiraan yang biasa ia pakai untuk mengamati kasus perselingkuhan. Seorang wanita berusia empat puluhan mencurigai suaminya dan menyewa mereka untuk menyelidiki. Sebuah kasus ringan. Biasanya begitu. Bodat! Siapa sangka suami wanita itu benar-benar licin.

Dalam sebuah kasus perselingkuhan, target mungkin mengandalkan hotel sebagai tempat bertemu. Tetapi mereka jarang memeriksa atau membuat langkah antisipasi untuk mengelabui para penguntit. Itu mungkin karena bedebah di selangkangan mereka sudah mengeras hingga otak mereka tak sempat memikirkan apa pun selain lubang untuk landing.

Tapi Si Gendut ini berbeda. Si Gendut mau berepot-repot membuat langkah antisipasi. Apa dia terlalu banyak nonton film spy?

Ah, Si Gendut bergerak. Pria itu segera bangkit lalu mengikuti.

Si Gendut berjalan menuju area parkir di lantai dasar lalu berbelok ke kiri dan mendekati sebuah mobil kijang berwarna hitam.

Nafas detektif itu memburu. Ia mempercepat langkah.

Udara dii area parkir terasa pengap; bau asap kendaraan tercium. Ternyata banyak juga mobil yang parkir di sini. Sebagian besar mobil keluaran terakhir.

Detektif itu terus mengikuti. Menjaga jarak. Cahaya lampu neon di langit-langit membuat kijang hitam di depan tampak berkilap. Si gendut mendekati kijang itu.

Di samping pintu depan mobil kijang, Si Gendut mengeluarkan kunci dari amplop lalu membuka pintu.

Detektif itu mempercepat langkah. Si Gendut mulai memasuki mobil. Saat melintas di depan mobil itu, Sang Detektif berhenti, lalu mengeluarkan ponselnya. Detektif itu menatap lurus ke depan; ponsel ia dekatkan ke telinga, sedemikian rupa sehingga kamera ponsel mengarah ke mobil Si Gendut.

Detektif itu menekan sebuah tombol. Mulutnya mengoceh tanpa suara, seolah sedang menerima telepon. Sesaat kemudian, detektif itu melanjutkan langkah sambil melihat gambar pada ponsel.

Gerung mobil terdengar; mobil kijang Si Gendut bergerak. Detektif itu menekan beberapa tombol untuk menelepon.

“Bintang, target bergerak. Kijang hitam, pelat B 5- …,” kata detektif itu. ”Kau tempel, aku susul.”

Setelah memutuskan sambungan, Si Detektif kembali menekan beberapa tombol. Mobil Si Gendut melaju, berada lima meter di depan. Cahaya lampu berwarna kuning menerangi nomor polisi mobil kijang itu.

”Hai Mika, kau kosong?” kata detektif itu, “sip! Kau jemput aku ya, hotel ….”

***

Dua jam kemudian detektif itu telah duduk di dalam mobil, di samping temannya yang bernama Bintang. Langit tampak biru. Dari balik kaca, mereka mengamati sebuah rumah bertingkat tiga bergaya minimalis di seberang jalan.

Rumah itu berwarna krem dan coklat tua. Tembok batu bewarna hitam memagari bangunan itu.

”Bah! Bandot itu benar-benar paranoid,” kata detektif itu, ”cuma mau ’gituan’ saja dia buat berbelit-belit begini. Pikirnya dia itu James Bond apa?”

”Mungkin dia takut istrinya bakal nguntit, Bang.”

Sang detektif melirik temannya. Temannya mengangkat alis sambil tersenyum.

”Apa? Nguntit kata kau? Bah! Kalau begini ceritanya, sampai ganti mobil di dalam hotel segala, perempuan itu boleh mimpi kalau bisa nguntit sendiri. Polisi saja mungkin perlu berhari-hari buat tahu di sini gundiknya tinggal. Ah, sudahlah, potret dan cari tahu siapa yang tinggal di rumah itu. Kita harus buat laporan bagus. Kalau tidak, bisa hancur nama kita. Masa urusan begini perlu tiga minggu? Apa kata dunia?”

[BERSAMBUNG] Tidak ingin ketinggalan cerita ini? Gabung di newsletter dan kau akan mendapatkan update terbaru.

[ssba]