Spammer – Part 3

Satu jam kemudian Rianti kembali lagi. Lima meter dari toko yang hendak ia tuju, seorang gadis menyodorkannya sebuah brosur. Rianti mengangkat tangannya.

Gadis penyodor brosur itu tersenyum lalu mundur. Saat Rianti telah menjauh, gadis itu mendekatkan bibirnya ke bahu kanan. Si gadis berbisik.

Satu jam taklah cukup untuk mengganti sebuah rezim, apalagi menghapus korupsi dari bumi pertiwi. Meski demikian sudah ada perubahan di toko itu: beberapa angka mata uang asing telah berubah dan jumlah orang yang duduk menunggu juga sudah berkurang. Namun jika diperhatikan lebih cermat, ada seorang lelaki yang tetap di sana meski sekarang ia telah mengganti korannya. Tetapi saat itu detail demikian tidaklah menarik buat Rianti. Begitu memasuki toko, Rianti langsung berjalan menuju gerai. Pegawai perempuan yang tadi melayaninya tersenyum.

“Selesai, Dik?” kata Rianti.

Pegawai itu mengangguk lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat.

“Sudah, Bu. Fee-nya juga sudah diambil seperti biasa. Mau dihitung?”

Rianti tersenyum lalu segera menyambar amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas, “Ah, tidak perlu. Terima kasih.”

Rianti berbalik lalu berjalan keluar.

Saat Rianti telah berada di pintu keluar, lelaki yang sedari tadi mengamati, berbisik, bangkit, lalu berjalan mengikuti Rianti.

Lelaki itu menjaga jaraknya beberapa meter di belakang Rianti. Saat ia melewati seorang gadis penyebar brosur, lelaki itu melirik. Gadis itu bergegas mengikuti lelaki itu.

Dalam diam, seperti sepasang kekasih habis bertengkar, keduanya mengikuti Rianti yang berjalan tiga meter di depan mereka.

Rianti Kesuma terus berjalan menuju pintu keluar, menuju matahari kegembiraan. “Hari ini sungguh indah, semuanya berjalan mulus,” pikir Rianti.

Sekarang tinggal berangkat ke hotel tempat suaminya telah menunggu, dan mereka bisa makan malam dengan para petinggi partai. Urusan pencairan uang ini memang agak merepotkan karena harus ia lakukan sendiri. Namun apalah artinya sedikit kerepotan dibandingkan hasilnya. Dan kerepotan hari ini tidak ada apa-apanya dibandingkan saat kampanye dulu. Belum lagi kalau Rianti ingat jumlah uang yang harus ia kucurkan saat itu. Benar-benar bikin jantungan.

Untunglah Rianti bukan penakut. Rianti tahu sukses besar hanya bisa diraih jika berani mengambil risiko. Hal itu juga yang ia katakan kepada suaminya. Dan keberuntungan memang memihak kepada mereka yang berani.

Prediksi Rianti tidak meleset. Setelah menjadi anggota dewan, proyek-proyek dengan lancar diraup perusahaan suaminya. Dan modal kampanye kemarin dalam sekejap sudah kembali.

Teman-temannya di partai dan dewan memang orang-orang kompeten. Mereka cakap menggunakan pengetahuan untuk kemakmuran bersama. Pembayaran dengan traveler’s cheque, cek pelawat, sungguh praktis. Hidup ini dan negeri ini sungguh menakjubkan. Gemah ripah loh jinawi, pikir Rianti sambil tersenyum dan terus melangkah.

Beberapa langkah sebelum mencapai pintu keluar, Rianti melihat pintu itu membuka secara otomatis. Rianti lalu merasakan hawa panas menerpanya. Pastilah matahari bersinar sangat terik di luar sana. Dan pastilah sangat tersiksa jika harus bekerja keras di terik seperti itu.

“Amit-amit kalau harus berpanas-panasan,” pikir Rianti sambil terus melangkah. Bisa rusak seluruh perawatan tubuhnya.

Beberapa meter di depan, Rianti melihat dua orang pria. Mereka seperti ingin menghalangi jalan Rianti.

Rianti melirik ke kanan. Ada satpam sepuluh meter di kanan sana. Sedikit penyesalan terbersit di benak Rianti. Harusnya tadi ia membawa sopir agar bisa mengawalnya. Tetapi itu juga agak riskan. Rianti tidak ingin pencairan cek hari ini diketahui banyak orang.

Rianti berhenti, lalu menimbang-nimbang untuk berjalan ke arah satpam. Tas serta uang yang ada di dalamnya cukup untuk membuat orang tega membunuh. Apa yang harus aku lakukan? Pikir Rianti.

Kedua pria itu semakin mendekat dan seperti merapatkan kepungan.

Rianti ingin menggertak, tetapi belum sempat bersuara, ia mendengar seseorang memanggilnya. Rianti menoleh ke belakang.

Seorang pria dan seorang perempuan tampak mendekati Rianti.

“Maaf, Bu Rianti,” kata pria itu sambil menunjukkan sebuah lencana, “mohon ikut kami!”

Rianti menatap lencana itu dan berharap sedang berada di gurun pasir, pinggir laut, atau tempat terik mana pun asal bukan di mal ini.

Meski cuma sebuah lencana, di mata Rianti benda itu tampak seperti pistol yang sedang ditodongkan langsung ke bola matanya. Berkilap diterpa cahaya, menempel pada lencana itu sebuah pahatan burung garuda berwarna merah dan putih dengan tiga huruf besar di bawahnya: KPK.

[BERSAMBUNG] Tidak ingin ketinggalan cerita ini? Gabung di newsletter dan kau akan mendapatkan update terbaru.

[ssba]