R. Mailindra

Spammer – Part 6

Pukul 10.15.

Ponsel Leak berbunyi lebih cepat daripada perkiraannya. Leak melirik ke arah pengganggu itu dan memutuskan untuk membiarkannya. Ia belum selesai mengatur perangkatnya.

Berengsek! Seandainya bukan Aven yang minta pastilah sudah ia tolak karena untuk menyelesaikan tugas itu ia harus menyusup ke dalam jaringan.

Bukannya tidak mampu. Leak sangat sanggup. Tapi sebelumnya, ia harus mengamati dahulu lokasi target, jenis sistem operasi, jalur-jalur yang terbuka, layanan yang aktif. Lalu mencoba menggambar peta jaringan, memikirkan celah-celah, membongkar password, dan segala tetek bengek lainnya. Semua itu butuh waktu, dan ia cuma diberi kurang dari satu jam. Berengsek!

Apalagi sekarang jam kerja. Administrator penjaga gerbang jaringan pasti sedang di tempatnya. Leak kenal betul tabiat mereka, orang-orang paranoid, jenis yang memegang kuat nasihat “only paranoids survive”. Begitu merasa ada kejanggalan, para penakut itu pasti langsung menutup semua gerbang jaringan. Dan jika hal itu terjadi di tengah aksinya, semuanya bisa kacau.

Tetapi Leak paham, admin juga manusia. Manusia, itulah ikatan terlemah. Secanggih dan sekuat apa pun rantai sistem keamanan, ikatan yang ini selalu yang terlemah. Selalu!

Continue reading

Spammer – Part 5

Ponsel itu berdering dan menggelepar di atas meja komputer, membuat pria yang ada di sebelah ponsel itu berhenti sejenak dari keasikannya bermain game strategi. Pria gondrong itu lalu menoleh ke kanan. Rambut hitam sebahunya yang dikuncir ekor kuda berayun dan menyapu bahu. Wajah pria gendut itu tampak pucat karena jarang terjemur sinar matahari. Dan seperti kebanyakan pria gemuk berkulit putih lainnya, pria itu tampak lucu dan menyenangkan. Ia mirip Tie Pat Kay—siluman babi adik seperguruan Sun Go Kong, Si Kera Sakti dalam cerita Perjalanan Ke Barat. Tetapi, penampilan bisa sangat menipu.

Continue reading

Spammer – Part 4

Pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga dan terdiam seolah sedang mendengar khotbah maha penting. Matanya nyalang. Ia melirik ke kiri, ke arah lelaki tambun yang berdiri di depan konter resepsionis hotel—lima belas meter di samping kiri.

Sambil terus tersenyum, Sang Resepsionis—seorang gadis berusia dua puluhan—mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Beberapa saat kemudian gadis itu berjalan ke belakang lalu menghilang.

Saat kembali, gadis itu membawa sebuah amplop. Pria yang sedang mendengarkan ponsel itu ingin sekali mendekati mereka lalu mencuri dengar pembicaraan. Kalau mungkin sekalian melihat isi amplop tersebut. Namun ia tak mungkin melakukannya. Bisa kacau semuanya. Ia telah bersumpah kali ini harus berhasil.

Continue reading

Spammer – Part 3

Satu jam kemudian Rianti kembali lagi. Lima meter dari toko yang hendak ia tuju, seorang gadis menyodorkannya sebuah brosur. Rianti mengangkat tangannya.

Gadis penyodor brosur itu tersenyum lalu mundur. Saat Rianti telah menjauh, gadis itu mendekatkan bibirnya ke bahu kanan. Si gadis berbisik.

Satu jam taklah cukup untuk mengganti sebuah rezim, apalagi menghapus korupsi dari bumi pertiwi. Meski demikian sudah ada perubahan di toko itu: beberapa angka mata uang asing telah berubah dan jumlah orang yang duduk menunggu juga sudah berkurang. Namun jika diperhatikan lebih cermat, ada seorang lelaki yang tetap di sana meski sekarang ia telah mengganti korannya. Tetapi saat itu detail demikian tidaklah menarik buat Rianti. Begitu memasuki toko, Rianti langsung berjalan menuju gerai. Pegawai perempuan yang tadi melayaninya tersenyum.

“Selesai, Dik?” kata Rianti.

Pegawai itu mengangguk lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat.

“Sudah, Bu. Fee-nya juga sudah diambil seperti biasa. Mau dihitung?”

Rianti tersenyum lalu segera menyambar amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas, “Ah, tidak perlu. Terima kasih.”

Rianti berbalik lalu berjalan keluar.

Saat Rianti telah berada di pintu keluar, lelaki yang sedari tadi mengamati, berbisik, bangkit, lalu berjalan mengikuti Rianti.
Continue reading

Spammer – Part 2

Karpet merah, gerbang membuka, dan hawa sejuk nan wangi bersemilir. Beberapa pasang mata gadis kemayu berpakaian gelap dan berwajah mengkilap tersenyum kepadanya. Perempuan setengah baya itu mengangguk saat melangkahkan sepatunya memasuki pusat perbelanjaan mewah itu. Ia tahu, para penyambutnya pasti paham harga busana yang ia kenakan serta tas tangan yang meliuk di lengannya. Dan itu saja sudah cukup untuk memperkenalkan siapa dirinya.

Continue reading

Spammer – Part 1

Ponsel itu berdering dan menggelepar di atas meja komputer, membuat pria yang ada di sebelah ponsel itu berhenti sejenak dari keasikannya bermain game strategi. Pria gondrong itu lalu menoleh ke kanan. Rambut hitam sebahunya yang dikuncir ekor kuda berayun dan menyapu bahu. Wajah pria gendut itu tampak pucat karena jarang terjemur sinar matahari. Dan seperti kebanyakan pria gemuk berkulit putih lainnya, pria itu tampak lucu dan menyenangkan. Ia mirip Tie Pat Kay—siluman babi adik seperguruan Sun Go Kong, Si Kera Sakti dalam cerita Perjalanan Ke Barat. Tetapi, penampilan bisa sangat menipu.

Pria putih gemuk itu kembali menatap layar datar di depannya dan mulai memainkan lagi jemarinya di atas papan ketik—melanjutkan permainan. Tumpukan CD tampak berantakan di pojok ruangan itu; musik heavy metal berdentam-dentam di udara; dan asap rokok, bau keju piza, serta manis kola memengapkan ruangan. Tapi, semua itu tidaklah mengganggu konsentrasi bermain pria itu. Konsentrasi pria gendut itu justru buyar gara-gara ponsel di kanannya tak kunjung lelah bertingkah seperti kecoak habis disemprot.

Setelah mendesah, Si Gendut memungut ponsel menyebalkan itu, lalu membaca nomor yang muncul di layar. “Siapa?” pikirnya.
Continue reading