Cerbung: Kumpulan Cerita Thriller dan Action

Cerbung

Kumpulan Cerita Thriller dan Action

February 2012

Lenka

Lenka

by Ronny Mailindra
Tags: , ,

1

Malam pesta

LIMA belas menit lagi kepala indah Lenka akan menghantam lantai dasar Jakarta Art Exhibition Center. Bagian belakang tengkoraknya akan pecah dan darahnya menggenang seperti saus vla merah. Serpihan daging merah jambu dan otak putih keabu-abuan akan bercampur dengan kepingan kecil mengkilap dari patung kristal yang pecah terhantam oleh tubuh Lenka yang meluncur deras dari lantai lima.

Tapi, bersabarlah menunggu. Seperti matahari surut pada waktunya, kepala Lenka juga akan pecah pada waktunya. Dan kau akan tahu saat itu bahwa keindahan memang sering berumur pendek. Sekarang, di lantai dasar yang sudut-sudutnya berhias jambangan mawar dan lili sebagian tetamu undangan acara penggalangan dana Pustaka Bunyi Indonesia masih asyik bercakap, mengudap makanan Ternate dan Nusa Tenggara Timur yang menjadi sajian utama, menyesap anggur Bali, atau memamerkan perhiasan terbaru mereka dengan gaya pura-pura malas tetapi ingin betul diketahui dan dikagumi lawan bicaranya.

Beberapa pasang mata, yang pemiliknya letih bergunjing atau mengganyang gohu, masakan ikan mentah ala Ternate, menangkap sosok gadis muda yang turun dari lantai mezanin: Lenka. Ia berjalan seperti tanpa melihat anak tangga yang ditapak, punggungnya tegak, dagunya sedikit mendongak, sementara tangan kirinya menyusuri pegangan kayu yang samar-samar menguarkan aroma cendana. Gaun biru wisnu berlengan satu membuat bahu kanan Lenka yang terbuka terlihat berkilat memantulkan sinar lampu.

Gerakan anggun itu patah cepat ketika Tiung Sukmajati, ayah Lenka, melambaikan tangan memintanya mendekat.

“Mana kakakmu?” tanya Tiung.

“Tidak lihat.”

“Cari dia. Tadi dia ada di lantai dua bersama Meimei Pikatan.”

“Aku tidak lihat Pandan atau si jalang itu,” kata Lenka.

Tiung mengumpat pelan, tak bakal terdengar oleh tetamu lain tetapi cukup jelas bagi telinga Lenka maupun Amir Sambaliung, politisi yang sejak sepuluh menit sebelumnya selalu menempel Tiung.

“Cari Pandan,” kata Tiung.

Mata Lenka membantah ayahnya. Sia-sia. Tiung, konduktor yang terbiasa menghadapi mata-mata patuh musisi di orkesnya, tak bakal mundur hanya karena bantahan tanpa kata anak perempuannya. Lenka berbalik menaiki tangga.

Amir berdiri kaku di samping Tiung. Matanya mengawasi Lenka sampai sosok gadis itu menghilang di antara kerumunan manusia di lantai atas. Ia menyesal tak bisa berlama-lama menatap Lenka. Tapi, ada yang lebih penting. Dan ia segera membuat tindakan-tindakan klise untuk mengawali urusan yang lebih penting itu: membersihkan kerongkongan dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan, menyentuh bahu Tiung, lalu secara ekspresif melambaikan tangan kanannya. Ia sudah menunggu kesempatan ini dari tadi.

Dua orang mendorong sebuah meja beroda yang di atasnya tegak patung dada terbuat dari kristal setinggi satu meter ke hadapan mereka. Cahaya lampu dari sudut-sudut tertentu membuat benda itu beberapa kali lipat lebih menarik. Tiung memperhatikan rambut berombak, garis wajah tegas, dan bahu lebar patung. Ia menyembunyikan rasa bangganya.

“Pak Tiung suka?” Amir bertanya.

Tiung memiringkan kepalanya, lantas berkata, “Ternyata saya lebih tampan bila mengkilap.”

“Saya senang Anda senang,” ujar Amir.

Beberapa fotografer langsung meminta Tiung dan Amir berpose mengapit patung itu. Tamu-tamu yang melihat memberi tepuk tangan. Tidak membahana, bahkan terlalu lemah ketimbang yang diharapkan Amir, tapi itu sudah bisa membuat Amir tersenyum puas. Ia merasa kedatangannya ke acara Pustaka Bunyi Indonesia tak sia-sia.

Dua bulan yang lalu, Amir merasa geli ketika menerima undangan dan proposal acara. Dalam proposal disebutkan bahwa proyek yang digagas Tiung ini bakal mendokumentasikan segala bebunyian lokal Indonesia, mulai nyanyian, salawat, alat musik, alat upacara, dan masih banyak lagi. Amir berpikir, apa untungnya bunyi dikoleksi? Tapi, biarlah itu menjadi urusan Tiung. Urusan Amir adalah mengail simpati sebanyak-banyaknya dari kalangan seluas-luasnya. Mendapatkan nama besar Tiung Sukmajati di belakang partainya akan menjadi modal kampanye yang sangat bagus. Untuk itulah Amir khusus memesan patung kristal demi mengambil hati sang maestro.

Amir sudah menyiapkan segerobak puja-puji kepada Tiung ketika Luisa Báthory-Sukmajati, istri Tiung, muncul bersama Komang Pamalayu. Luisa, bergaun warna madu, berdiri canggung di samping suaminya, sementara Komang mengangguk kepada Amir, yang dibalas oleh Amir dengan mengangkat gelas anggurnya. Seekor anjing maltese terkepit di lengan kiri Komang. Lidah binatang mungil itu terjulur dan matanya menatap galak Amir. Komang mengelus kepala si anjing, membujuknya supaya tenang, sementara Amir menyesap anggur dan dalam hati menyumpahi interupsi yang menyebalkan ini.

“Tiung, kau melihat suamiku?” Komang bertanya.

Tiung mengangkat bahu dan tersenyum kecil. Ia teringat tadi menanyakan keberadaan anak sulungnya kepada Lenka. Mengapa di pesta orang selalu kehilangan orang yang dicarinya?

“Liman tadi bilang punya janji dengan siapa, dan sekarang menghilang begitu saja. Mana ponselnya mati lagi,” kata Komang. Wajah gusarnya mulai mirip dengan paras galak anjing kecil yang dikepitnya.

“Memangnya ada apa?” tanya Tiung

“Ruben sakit.”

Komang mengelus punggung Ruben. Cincin ungu besar di jari manis kanannya terlihat kontras dengan bulu putih kecoklatan anjing itu. Si anjing mengeluarkan bunyi ‘guk’ lemah yang membuat Komang makin khawatir.

Melihat Tiung yang tak bersemangat menanggapinya, Komang mengajak Luisa naik ke lantai dua. Saat itulah Amir menarik napas lega, dan tepat pada saat itu pulalah aroma harum sei, daging bakar khas Nusa Tenggara Timur, yang semula tak ia perhatikan, menyerbu hidung dan menerbitkan laparnya. Tapi, dorongan ini harus ditahan sementara, pekerjaannya belum selesai.

Sial bagi Amir, ponsel Tiung berbunyi. Sang komposer mengamati nama yang muncul di layar selama dua detik, lalu segera mengangkatnya. “Ya?”

“Baiklah,” kata Tiung selanjutnya dengan wajah kurang senang, “jangan, jangan bawa dia ke sini, Galuh. Aku akan menemui kalian lima menit lagi. Ya. Ya.”

Tiung menutup telepon. Ia menatap Amir yang sedang memandanginya penuh rasa ingin tahu. “Pemain selo saya, Galuh, kebingungan menghadapi wartawan yang ngotot kepengin wawancara dengan saya sekarang juga.”

“Apa urusannya dengan pemain selo Anda?” tanya Amir.

Tiung menunjukkan wajah bertanya sehingga Amir langsung merasa ia salah omong. “Siapa nama wartawan itu?” Amir mencoba memperbaiki situasi. “Barangkali saya bisa membantu. Anda kan masih banyak urusan.”

“Jabar… something, dari Koran Metro Baru.” Tiung mengibaskan tangan. “Sudahlah, itu tidak penting. Maaf, Pak Amir, saya mesti ke atas, biar cepat selesai urusan dengan wartawan itu. Anda paham, kan? Kita teruskan pembicaraan ini nanti. Patungnya juara, sekali lagi terima kasih.”

“Saya ikut,” kata Amir.

Tiung menatap ganjil Amir, lalu mengangkat bahu dan segera berjalan menuju tangga.

Amir mengekor Tiung. Baru beberapa langkah, seorang pemuda dengan kamera di tangan menabrak bahu Amir. Pemuda itu bertubuh tinggi sehingga si politisi harus mendongak untuk melihat wajah penabraknya sebelum bisa melancarkan protes pendek yang ternyata sama sekali tak digubris karena si penabrak menuju sudut lain ruangan dan menaiki tangga di sana. Helong, Amir mengenalinya, fotografer yang satu kampus dengan Lenka.

Amir tak mau lama-lama memikirkan pemuda itu. Ia menyusul Tiung yang sudah tiga langkah di depannya. Tiung sendiri tak bisa melangkah secepat yang ia inginkan karena orang-orang yang dilewatinya selalu mengajaknya bersalaman, memberinya ucapan selamat, atau sekadar menepuk punggungnya.

Pada saat itulah terdengar jeritan. Ada bayangan biru meluncur deras dari lantai lima. Lalu bunyi patung kristal yang terhantam keras. Orang-orang menjerit. Ruangan membeku. Beberapa orang yang punya nyali maju melihat apa yang terjadi. Amir Sambaliung ada di antara orang-orang ini.

Keparat, Amir tak bisa menahan geramnya. Tubuh jatuh itu ternyata telah membuat patung yang dibawanya pecah berkeping-keping. Sekarang, kautahu, betapa singkat umur keindahan.

Cerita di atas adalah bab pertama dari novel Lenka yang detailnya bisa dilihat di sini:
LENKA

4 Responses to “Lenka”

  1. Ambar Says:

    Sepertinya menarik. Langsung menuju gramed!

  2. R. Mailindra Says:

    Terima kasih, Ambar.
    Semoga bisa menghibur.
    Salam

  3. Joan Says:

    Bab satu dalam novel juga sama sampai disini???

  4. R. Mailindra Says:

    Terima kasih sudah berkunjung.
    Apakah juga bisa menebak bagaimana hal yg dialami para tokoh sampai bisa terjadi.
    Ngga perlu menebak, jawabannya ada di buku kok :)

Leave a Reply

Creative Commons License

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

powered by
Socialbar

Paling Populer

main navigation