Cerbung: Kumpulan Cerita Thriller dan Action

Cerbung

Kumpulan Cerita Thriller dan Action

September 2010

Jangan Pernah Khianati Aku [JPKA]

JPKA: Bagian 2

by Ronny Mailindra
Tags: ,

Warning: mengandung konten dewasa +17 Tahun

Aku duduk di sofa ruang tamu sambil menatap televisi di depanku. Entah apa acaranya. Meski mataku menatap kotak bergambar itu, namun pikiranku mengembara.

Suara sepatu mendekatiku.
Aku menoleh ke arah tangga. Kulihat Wini telah selesai berdandan dan melangkah ke arahku. Tang-top dan celana jean super ketat membalut tubuhnya. Ia terlihat cantik dan sangat seksi, wajar jika Johan—pacar kedua—runtuh imannya.

“Pergi dulu ya Na,” kata Wini sambil tersenyum dan melenggok keluar.

Senyum itu masih sama. Senyum itu sangat beracun. Senyum itu merebut Johan dariku dan melumatkan kesetiaannya padaku.

Johan hanya penjahat kecil yang tidak bisa menolak untuk menikmati tubuh Wini.
“Ah…!” aku menghela nafas.
Pandanganku mulai kabur. Apakah aku berhalusinasi? Kulihat tayangan di layar televisi berubah. Benda itu mulai menayangkan berita satu tahun lalu. Gambar yang sama, rongsokan mobil yang sama dan garis kuning polisi yang sama. Perlahan suara itu bergema di kepalaku,

“…Seorang pemuda ditemukan tewas terbakar dengan kondisi yang mengenaskan dalam sebuah mobil sedan. Kondisi korban rusak parah dan mobil yang ditumpanginya lumat dilahap si jago merah hingga hanya menyisakan rongsokan besi…”

Johan, penghianat! Kau memang pantas mati.

-o0o-

Dua kali telah terjadi. Dua kejadian yang membuat emosiku bergejolak tak terkendali. Sampai kapan ini akan berlanjut? Aku gusar memikirkan Reynaldi—cowok tampan, pintar dan romantis yang kutemukan di kelas photograhiku. Dua bulan sudah sejak ia menyatakan cintanya. Dua bulan sudah kami berkencan; namun belum sekalipun kuajak ke rumahku.

“Kenapa aku ngga pernah kau ajak ke rumahmu Na?” tanya Reynaldi dua hari yang lalu. “Jangan khawatir Na, aku bisa buat papa mamamu terkesan kok. Paling tidak aku ngga akan buat papamu cemburu karena mamamu selalu melirikku,” lanjutnya sambil mengerlingkan mata.

Aku tersenyum kecut. Aku ngga tahu bagaimana menjelaskannya.

“Sabtu sore aku jemput kau di rumahmu, oke Na?”
“Tapi Rey__”
“Ah ngga ada tapi-tapian,” potong Rey. Ia lalu mencium pipiku dan berjalan menjauhiku, menuju mobil BMW hitamnya.

Rey sangat tampan dan percaya diri. Di dekatnya, aku bisa melihat pandangan iri gadis-gadis cantik di kelasku. Bahkan senyum genit para model yang kami sewa, terlihat bagai angin lalu bagi Rey. Dengan semua itu, mungkinkah Rey akan berbeda dari Rangga dan Johan?
Tanganku gemetar demi mengingat besok sore Rey akan datang. Besok sore rahasia kecilku akan terbuka. Besok sore Wini akan mengetahui pacar baruku.

-o0o-

“Mau ke mana Na?” tanya Wini ketika masuk ke kamar dan melihatku berdandan.

Kenapa juga dia selalu ingin tahu. Ya ampun, kenapa sih pada saat-saat seperti ini dia ngga pergi?

Aku tidak menjawab, cuma tersenyum. Aku lalu mengambil pakaianku dan membawanya ke kamar mandi.
Aku lebih tenang di sana, pikirku.

Kudengar suara bel berbunyi saat hendak memakai jeans.
Pasti Rey, pikirku.
Aku buru-buru menyelesaikan dandananku dan menghambur keluar kamar mandi. Kupercepat langkahku menuruni tangga. Kulihat di pintu masuk Wini memegang bunga dan Rey mencium pipinya.
Rey tertegun melihatku. Bergantian dipandanginya Wini dan aku.
Wini berjalan mendekatiku,

“Sepertinya pacarmu belum benar-benar mengenalmu Na. Ia menciumku,” kata Wini sambil menyerahkan mawar merah di tangannya.

Reynaldi tersipu. Kulihat wajahnya memerah.

“Sorry Na, kok kamu ngga bilang punya saudara kembar?”

Aku tersenyum kecut.
Aku maafkan kau Rey. Papa aja suka salah membedakanku dan Wini.

Kami duduk di sofa. Mama dan papa belum pulang. Wini masih di kamar.

“Harusnya aku curiga melihat tatapannya Na,” kata Rey, “ meski mirip, adikmu itu seperti belum pernah melihatku. Harusnya aku curiga, bodohnya aku. Memalukan. Tapi kok dia diem aja waktu kucium?”

Diem? Hari ini mungkin dia diam. Kau tak akan tahu apa yang akan dilakukannya besok.

“Rey.”
“Ya, sayang.”
“Maukah kau berjanji?”
“Janji apa Na?”
“Bahwa kau tidak akan menghianatiku?”

Rey diam. Untuk sesaat dia hanya memandangiku. Ia mencari sesuatu di dalam bening mataku.

“Kenapa kau berkata begitu Na. Apa karena aku salah mencium adikmu lalu kau pikir aku akan menghianatimu?”

Kali ini aku yang diam.

“Na, aku pinjam parfummu ya?”

Aku menoleh ke pojok atas, lantai dua rumahku. Wini telah berdiri di sana sambil berteriak. Tubuhnya berbalut handuk putih yang hanya mampu menutupi sebagian dadanya hingga sepertiga pahanya—memamerkan kemulusan paha dan kakinya. Wini mengangkat tangannya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil hingga dapat kulihat dengan jelas ketiaknya dan lekuk payudaranya.
Provokatif, murahan! Kutahu ia sudah memulai perburuannya.

-o0o-

Wini menuruni tangga. Saat mendekati kami, bisa kurasakan aroma pekat parfumnya—aroma parfumku. Ia tersenyum kepadaku juga Rey.

“Hi sorry tadi,” katanya kepada Rey sambil mengulurkan tangan. “Aku Wini, adiknya Wina.”
Rey tersipu, “Ah, aku yang harusnya minta maaf.”

Bunyi logam terbanting terdengar. Kunci mobil Wini tergeletak di lantai. Wini membungkuk mengambil kunci itu. Aku rasakan panas di wajahku saat melihat insiden itu. Kemeja yang dipakai Wini terlalu longgar, dan dia membiarkan dadanya tanpa penutup. Ya Tuhan, dari sofa ini aku bahkan bisa melihat kulit putih dengan tonjolan merah muda di dadanya. Kupalingkan wajahku untuk melihat Rey.
Rey terpukau, ia tampak sedang menelan sesuatu. Beberapa detik kemudian dia sadar dan memalingkan wajahnya untuk melihatku.

Saat Wini telah pergi, aku mengulangi pertanyaanku,

“Berjanjilah Rey, kau tak akan pernah menghianatiku.”
Ia tersenyum, lalu membelai pipiku, “Kau cemburu dengan adikmu Na.”

Bersambung…
Bagian ketiga, bagian terakhir, direncanakan terbit tanggal 1 Juni 2009

——————————————————-
Ronny Mailindra
Jakarta, 26 Mei 2009

main navigation