Cerbung: Kumpulan Cerita Thriller dan Action

Cerbung

Kumpulan Cerita Thriller dan Action

September 2010

Jangan Pernah Khianati Aku [JPKA]

JPKA: Bagian 1

by Ronny Mailindra
Tags:

Warning: mengandung konten dewasa +17 Tahun

Aku memegang handel pintu BMW itu; tidak terkunci; aku dengan mudah membukanya. Dua insan yang sedang bercinta di dalamnya refleks melihatku. Reynaldi ada di bawah sang wanita. Celananya sudah melorot sampai ke lutut hingga dapat kulihat bagian telanjang tubuhnya menempel dengan kulit wanita itu—kulit mulus Wini, saudari kembarku.
Rey tertegun menatapku; matanya menyiratkan keterkejutan. Bukan, itu bukan terkejut—itu ketakutan. Jelas dia ketakutan melihatku memegang dan mengarahkan sebuah pistol yang siap menyalak?
Kudengar suaranya sangat memelas saat mengatakannya,
“Wina…please, maafkan aku.”
“Sudah kukatakan jangan pernah khianati aku,” jawabku.

Suaraku sangat dingin saat mengatakannya. Lalu pistol di tanganku meledak. Satu kali, lalu sekali lagi. Aku melihat cairan kental berwarna merah mengalir di tubuh Rey.

-o0o-

“Kenapa kau terus melihatku?” tanya Wini.
Saudari kembarku melihatku di balik kaca rias kamar kami. Ia mengatakan itu setelah setengah jam lebih aku hanya duduk diam di pinggiran tempat tidurku sambil terus memandanginya. Wini selesai dengan lipstiknya, lalu memutar badannya dan berbalik menghadapku. Senyum masih menghiasi bibirnya, namun matanya memandangku tajam—menuntut jawaban.
“Kenapa kau selalu merebut pacar-pacarku?”
Wini tertawa kecil lalu berbalik lagi menghadap kaca rias.
“Na, coba liat di kaca ini. Lihatlah dengan jelas, betapa miripnya kita. Bahkan papa sering salah membedakan kau dan aku.”

Tak perlu kulihat ke dalam kaca. Aku tahu, mataku, alisku, hidungku semuanya sama seperti milik Wini. Leherku yang jenjang, kulit putihku bahkan bentuk payudaraku, semuanya sama. Kami kembar identik. Hanya karena aku lahir lebih dahulu beberapa menit, maka aku menjadi kakak.
“Dengan segala penampilan luar kita yang sama, apakah begitu sulit bagimu untuk mengetahui bahwa selera kita sama?” Wini berkata sambil terus berdandan.
“Tapi itu tidak memberimu hak untuk merebut pacar-pacarku!”
“Aku tidak merebut, mereka yang memilih. Mereka laki-laki semua sama Na, mereka suka gayaku.”
Gayaku? Gaya Wini? Aku muak mendengar kalimat itu. Tapi kuakui, Wini benar, mereka tidak bisa menolak tawaran kenikmatan yang disodorkan Wini.
“Dari dulu, papa dan mama selalu memberi kita barang yang sama. Memotong rambut kita dengan model yang sama. Bahkan sampai sekarang, saat usia kita sudah duapuluh satu tahun, kita masih tidur di kamar yang sama. Wajar dong kalo selera kita __”
“Itu tidak memberimu hak untuk merebut pacar-pacarku,” suaraku meninggi.
Wini kembali tertawa, “Ah, kau cuma cemburu kakakku sayang. Cemburu karena aku bisa mendapatkan, apa yang kau tidak bisa dapatkan. Sejujurnya aku harus berterima kasih kepadamu, pilihanmu memang tepat, mereka semua hebat di atas ranjang. Ah… andai saja kau bisa merasakannya…” Wini memejamkan matanya dan mulai berfantasi.

Aku muak melihatnya. Aku tidak kuat lagi. Tanpa berkata sepatah pun, aku bangkit dan masuk ke kamar mandi.

Kubasuh wajahku dari air yang mengalir di westafel lalu kupandangi lekat-lekat wajahku di cermin. Mataku yang besar dan bening, bibirku yang tipis dan pipiku yang selalu merona merah, meski tanpa make-up. Rangga—pacar pertamaku selalu memuji rona merah itu. Dan senyumnya semakin lebar saat melihat rona itu semakin memerah, buah dari pujiannya. Semuanya berjalan begitu indah, sampai saat Rangga berkunjung ke rumahku. Sampai saat Rangga bertemu Wini; sampai saat Rangga menghianatiku dan tidur dengan Wini.
Penghianat! Ia memang pantas mati.
Perlahan suara-suara mulai menggema di telingaku. Suara milik reporter berita yang ditayangkan di televisi dua tahun lalu. Suara yang membacakan berita kematian mengenaskan seorang pria muda dalam sebuah mobil yang terbakar, berita tentang kematian Rangga.

BERSAMBUNG (Bagian kedua direncanakan terbit tanggal 26 Mei 2009)

——————————————————-

Ronny Mailindra
Jakarta, 20 Mei 2009

main navigation