Cerita Terbaru

Spammer

Spammer – Part 4

by R Mailindra
Tags: , , ,

Pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga dan terdiam seolah sedang mendengar khotbah maha penting. Matanya nyalang. Ia melirik ke kiri, ke arah lelaki tambun yang berdiri di depan konter resepsionis hotel—lima belas meter di samping kiri.

Sambil terus tersenyum, Sang Resepsionis—seorang gadis berusia dua puluhan—mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Beberapa saat kemudian gadis itu berjalan ke belakang lalu menghilang.

Saat kembali, gadis itu membawa sebuah amplop. Pria yang sedang mendengarkan ponsel itu ingin sekali mendekati mereka lalu mencuri dengar pembicaraan. Kalau mungkin sekalian melihat isi amplop tersebut. Namun ia tak mungkin melakukannya. Bisa kacau semuanya. Ia telah bersumpah kali ini harus berhasil.

Sepertinya keputusannya kali ini tepat. Ia ingat dua minggu lalu sempat terkecoh. Dua minggu lalu bapak gendut itu pergi ke hotel lain dan ia hanya mengamati mobil bapak itu saja. Setelah dua jam menunggu dan Si Gendut tidak kunjung muncul, ia pun masuk mencari tahu namun mendapati fakta ajaib: Si Gendut tidak pernah masuk ke kamar ataupun meninggalkan hotel. Ke mana hilangnya pria segendut itu?

Keledai pun tak masuk lubang yang sama dua kali. Ia tak ingin disamakan dengan keledai apalagi kalah pintar dari keledai. Demi arwah Sherlock Holmes, ia adalah detektif profesional. Kali ini ia akan menempel Si Gendut. Tidak terlalu dekat, tapi mustahil untuk lenyap.

Awalnya dia pikir ini pekerjaan surveillance ringan yang bisa dikerjakan dua atau tiga hari. Sebuah perkiraan yang biasa ia pakai untuk mengamati kasus perselingkuhan. Seorang wanita berusia empat puluhan mencurigai suaminya dan menyewa mereka untuk menyelidiki. Sebuah kasus ringan. Biasanya begitu. Bodat! Siapa sangka suami wanita itu benar-benar licin.

Dalam sebuah kasus perselingkuhan, target mungkin mengandalkan hotel sebagai tempat bertemu. Tetapi mereka jarang memeriksa atau membuat langkah antisipasi untuk mengelabui para penguntit. Itu mungkin karena bedebah di selangkangan mereka sudah mengeras hingga otak mereka tak sempat memikirkan apa pun selain lubang untuk landing.

Tapi Si Gendut ini berbeda. Si Gendut mau berepot-repot membuat langkah antisipasi. Apa dia terlalu banyak nonton film spy?

Ah, Si Gendut bergerak. Pria itu segera bangkit lalu mengikuti.

Si Gendut berjalan menuju area parkir di lantai dasar lalu berbelok ke kiri dan mendekati sebuah mobil kijang berwarna hitam.

Nafas detektif itu memburu. Ia mempercepat langkah.

Udara dii area parkir terasa pengap; bau asap kendaraan tercium. Ternyata banyak juga mobil yang parkir di sini. Sebagian besar mobil keluaran terakhir.

Detektif itu terus mengikuti. Menjaga jarak. Cahaya lampu neon di langit-langit membuat kijang hitam di depan tampak berkilap. Si gendut mendekati kijang itu.

Di samping pintu depan mobil kijang, Si Gendut mengeluarkan kunci dari amplop lalu membuka pintu.

Detektif itu mempercepat langkah. Si Gendut mulai memasuki mobil. Saat melintas di depan mobil itu, Sang Detektif berhenti, lalu mengeluarkan ponselnya. Detektif itu menatap lurus ke depan; ponsel ia dekatkan ke telinga, sedemikian rupa sehingga kamera ponsel mengarah ke mobil Si Gendut.

Detektif itu menekan sebuah tombol. Mulutnya mengoceh tanpa suara, seolah sedang menerima telepon. Sesaat kemudian, detektif itu melanjutkan langkah sambil melihat gambar pada ponsel.

Gerung mobil terdengar; mobil kijang Si Gendut bergerak. Detektif itu menekan beberapa tombol untuk menelepon.

“Bintang, target bergerak. Kijang hitam, pelat B 5- …,” kata detektif itu. ”Kau tempel, aku susul.”

Setelah memutuskan sambungan, Si Detektif kembali menekan beberapa tombol. Mobil Si Gendut melaju, berada lima meter di depan. Cahaya lampu berwarna kuning menerangi nomor polisi mobil kijang itu.

”Hai Mika, kau kosong?” kata detektif itu, “sip! Kau jemput aku ya, hotel ….”

 

***

Dua jam kemudian detektif itu telah duduk di dalam mobil, di samping temannya yang bernama Bintang. Langit tampak biru. Dari balik kaca, mereka mengamati sebuah rumah bertingkat tiga bergaya minimalis di seberang jalan.

Rumah itu berwarna krem dan coklat tua. Tembok batu bewarna hitam memagari bangunan itu.

”Bah! Bandot itu benar-benar paranoid,” kata detektif itu, ”cuma mau ’gituan’ saja dia buat berbelit-belit begini. Pikirnya dia itu James Bond apa?”

”Mungkin dia takut istrinya bakal nguntit, Bang.”

Sang detektif melirik temannya. Temannya mengangkat alis sambil tersenyum.

”Apa? Nguntit kata kau? Bah! Kalau begini ceritanya, sampai ganti mobil di dalam hotel segala, perempuan itu boleh mimpi kalau bisa nguntit sendiri. Polisi saja mungkin perlu berhari-hari buat tahu di sini gundiknya tinggal. Ah, sudahlah, potret dan cari tahu siapa yang tinggal di rumah itu. Kita harus buat laporan bagus. Kalau tidak, bisa hancur nama kita. Masa urusan begini perlu tiga minggu? Apa kata dunia?”

[BERSAMBUNG]

Belum ada komentar
Tulis komentar

Spammer

Spammer – Part 3

by R Mailindra
Tags: , ,

Satu jam kemudian Rianti kembali lagi. Lima meter dari toko yang hendak ia tuju, seorang gadis menyodorkannya sebuah brosur. Sang ratu berkacamata coklat mengangkat tangannya lalu menggelengkan kepala. Gadis penyodor brosur itu tersenyum lalu mundur, namun saat Rianti telah menjauh, si gadis mendekatkan bibirnya ke arah bahu kanannya dan berbisik.

Baca Selengkapnya »

Belum ada komentar
Tulis komentar

Spammer

Spammer – Part 2

by R Mailindra
Tags: , , ,

Karpet merah, gerbang membuka, dan hawa sejuk nan wangi bersemilir. Beberapa pasang mata gadis kemayu berpakaian gelap dan berwajah mengkilap tersenyum kepadanya. Perempuan setengah baya itu mengangguk saat melangkahkan sepatunya memasuki pusat perbelanjaan mewah itu. Ia tahu, para penyambutnya pasti paham harga busana yang ia kenakan serta tas tangan yang meliuk di lengannya. Dan itu saja sudah cukup untuk memperkenalkan siapa dirinya.


Baca Selengkapnya »

Belum ada komentar
Tulis komentar

Spammer

Spammer – Part 1

by R Mailindra
Tags: , , ,

Tersebab apa pun waktu tak mungkin melambat dan itu membuat jantung Aven Dogoan ingin melompat saat menyadari satu jam telah berlalu dan dari pintu ruang kerjanya menghambur suara ketukan.

Pintu kayu berwarna coklat muda itu merupakan gerbang pertahanan terakhirnya. Jika gerbang itu bergerak membuka, itu berarti dia harus menghadapi langsung si marabahaya.


Baca Selengkapnya »

6 komentar
Tulis komentar

Lenka

Lenka

by R Mailindra
Tags: , ,

1

Malam pesta

LIMA belas menit lagi kepala indah Lenka akan menghantam lantai dasar Jakarta Art Exhibition Center. Bagian belakang tengkoraknya akan pecah dan darahnya menggenang seperti saus vla merah. Serpihan daging merah jambu dan otak putih keabu-abuan akan bercampur dengan kepingan kecil mengkilap dari patung kristal yang pecah terhantam oleh tubuh Lenka yang meluncur deras dari lantai lima.


Baca Selengkapnya »

9 komentar
Tulis komentar

Dunia Buku

Lenka, Buku Keduaku

by R Mailindra
Tags: , , , ,

LENKA

Lama menghilang dan ditinggal tanpa cerita. Mohon maaf semuanya. Kabar bagusnya, setelah Fantasy Fiesta, buku kedua saya telah terbit 2 bulan lalu. Judulnya Lenka. Detailnya bisa dilihat pada tautan di atas. Berita bagus lagi, meski banyak yang memasukkan cerita ini dalam kategori sastra, buku ini juga punya warna thrillernya.  Berikut ini kutipan sinopsisnya:

Novel berjudul Lenka ini, ditulis bersama dengan 16 orang lainnya yang dulu pernah menjadi peserta Bengkel Penulisan Novel DKJ periode 2008-2009, dimulai dari sebuah situasi : “Pada sebuah acara penggalangan dana, seorang perempuan muda bergaun wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?”

Buku ini sudah bisa di dapat di toko buku Gramedia terdekat. Jika kesulitan mendapatkannya, bisa pesan lewat saya di alamat email mailindra et yahoo dot com

Belum ada komentar
Tulis komentar

Dunia Buku

Boxinite

by R Mailindra
Tags:

Fantasy Fiesta 2010: Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2010 

Boxinite, cerita seru ini bisa kamu baca di Fantasy Fiesta 2010: Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2010. Dapat dibeli di toko buku Gramedia.

Belum ada komentar
Tulis komentar

Judul Cerita



Creative Commons License

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

powered by
Socialbar

Paling Populer

main navigation